Site ini telah dibaca kali

SELAMAT DATANG DI

Halo,

Gue punya cerita-cerita mesum yang gue buat dari sekitar 7 taon yang lalu. Serial cerita ini punya tokoh yang bernama Adi. Dia kuliah di Universitas Sebelah UI, Fakultas Ekonomi. Dia anak orang kaya-menengah, dan punya rumah gede di Rawamangun. Dan dia gape banget dalam hal ngentot-mengentot. Mau tau ceritanya? Ikutin cerita-cerita ini!!


INGE

Sebuah van kuning meluncur di Gatot Subroto, dikendarai oleh Adi dan Inge duduk di sebelahnya. Mereka dari Kartika Chandra 21, nonton film Night Eyes yang midnight. Jam mobil menunjukkan pukul 03.00 dinihari, dibarengi lagu slow romantis.

"Inge, gue sayang kamu," Adi menatap Inge dengan mesra.

"Gombal," Inge pura-pura cemberut.

"Nggak percaya?" tanya Adi sambil belok ke Tebet, kemudian berhenti di tempat sepi.

Adi mencium Inge mesra. Tangan Adi melepas satu kancing di payudara Inge, tapi tangan Inge menangkapnya, lalu mengarahkan untuk membelai badannya. Adi memeluk Inge dan membelai punggungnya dari balik kemeja Inge. Inge membalasnya dengan melepaskan kemeja Adi.

Mereka pindah tempat ke belakang yang lebih luas. Adi akhirnya melepas kemeja Inge. Bibir Adi sibuk menciumi leher Inge yang indah ketika tangannya merengut bra Inge. Inge mengelus dada Adi, sambil sesekali mencubitinya yang membuat Adi memekik perlahan. Inge pun tertawa pelan.

Mini-skirt Inge dengan mudah dilepas oleh Adi. Jeans Adi juga sudah berada di lantai. Celana dalam Inge rusak karena direngut secara kasar oleh Adi.

"Adi, pelan-pelan," desah Inge. Tapi Inge membalas merobek celana dalam Adi.

"Inge, sabar aja," goda Adi. Adi segera mengulum puting Inge. Payudara Inge segera menegang dengan bentuk yang indah. Inge mendesah nikmat. Apalagi ketika jari Adi memasuki vagina Inge. Inge mengerang-erang kecil, tanda nikmat. Adi sekarang menciumi dan mengulum vagina Inge. Inge makin menjadi erangannya. Inge akhirnya membalas. Penis Adi dikulum oleh Inge.

"Ngggh," Inge mengerang lagi, dan kali ini berbarengan dengan cairan yang keluar dalam vagina Inge. Adi merasakannya, hangat dan kental.

Tubuh Inge indah, dengan wajah yang ayu dan rambut sebahu. Payudaranya besar dan indah, dan dalam keadaan menegang berbentuk buah mangga yang mengkal. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya besar. Pantatnya kenyal dan indah, dengan paha mulus dan berisi serta tungkai yang indah.

"Kamu hebat Adi," desah Inge. Inge memperkuat kuluman pada penis Adi seperti mengulum lolly-pop. Tak berapa lama kemudian Adi memeluk Inge erat-erat dan mengejan,........ tapi akhirnya keluar juga mani dari penis Adi, yang langsung ditelan oleh Inge.

Adi segera mengubah posisi, dan langsung memasukkan penisnya ke dalam vagina Inge, yang menyebabkan Inge mengerang lagi, karena merasakan suatu kenikmatan yang amat sangat. Vaginanya penuh oleh penis Adi yang besar dan panjang, dan klitoris Inge terdesak.

"Besar sekali Adi," desah Inge. Adi hanya tersenyum lalu mengulum puting Inge.

"Adi, jangan, jangan Adi, jangan," mohon Inge karena Inge merasakan kenikmatan yang sangat. Tiba-tiba Inge memeluk Adi kuat-kuat berusaha untuk menahan keluarnya cairan dari vaginanya. Tapi sia-sia.

"Ngggh!!" Inge merasa kalah, dan berusaha melepaskan diri dari Adi. Tapi Adi mengejar hingga Inge menyerah, dan membuat Inge bertekad membalas kekalahannya. Vaginanya sekarang dikedot. Penis Adi dibuat tidak bisa bergerak. Tapi Adi terus saja mengeluar-masukkan penisnya, dan,........ "Ngggh!!" Inge kalah lagi!

"Adi, capek, Di. Please, jangan!" hiba Inge. Tapi Adi terus saja, malah makin memperkeras masuknya penis. Inge mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya. Adi kembali menciumi leher Inge dengan sedikit menggigit perlahan. Inge tiba-tiba memeluk Adi lagi. Tapi sekarang Adi juga memeluk Inge. Cairan Inge keluar duluan dengan derasnya.

"Adi, cukup, Adi," pinta Inge.

"Tunggu, Inge," kata Adi.

"Awgggh!!!" akhirnya mani Adi keluar juga.

KATHLEEN

Adi bangun dari tidurnya dan menggeliat. Semalam setelah Inge, kekasihnya, diantar pulang, Adi segera pulang dan tidur, kecapekan. Sekarang capeknya sudah hilang. Hari ini Adi berjanji mengantarkan proposal pertunjukkan di JIS ke Kathleen, bule manis teman Adi. Segera Adi mandi dan bergegas menuju rumah Kathleen di Menteng.

Sampai di sana, Adi diajak Kathleen masuk ke kamarnya, dimana Kathleen merencanakan semua hal tentang pertunjukkan ini. Sampai di kamar, Kathleen ganti baju, yaitu celana bike pants dan kaos You Can See seperut, tanpa bra, di depan Adi!

"It's very hot," alasan Kathleen.

"But your room has an AC system. It's cold enough!" komentar Adi heran, sembari berusaha menahan nafsunya.

"Still, it's hot," jawab Kathleen pendek.

Tak lama kemudian, mereka mendiskusikan proposal itu. Kathleen, (sepertinya tak sadar) sering menunjukkan bahwa ia sedang dilanda birahi. Adi sedapat mungkin menahan diri. Akhirnya Adi tidak tahan, dan ingin melakukan onani.

"Kathleen, I want to go to bathroom," Adi minta izin ke kamar mandi yang terletak dalam kamar Kathleen.

"Go ahead," Kathleen mengizinkan.

Adi cepat-cepat masuk ke kamar mandi yang besar itu, dan melepaskan pakaiannya.

"You didn't lock it," tiba-tiba Kathleen sudah berada dalam kamar mandi.

"Wow, yours is big!" Kathleen kagum melihat penis Adi, lalu mengunci pintu kamar mandi dan terpaku.

"I like you, Kathleen. I wanna sex you up," Adi mendekati Kathleen yang sudah menyalakan shower yang segera membasahi tubuh Kathleen. Tampaklah bayangan tubuh Kathleen yang indah.

Parasnya cantik mengundang birahi, lehernya jenjang, payudaranya montok, pinggangnya ramping tapi pinggul besar, perutnya halus dan pahanya indah berisi. Ditambah kulitnya putih halus, dan rambutnya pirang sedada.

Kathleen merapat ke dinding seiring mendekatnya Adi, yang lalu merengut kaos Kathleen dan terlihatlah payudara Kathleen yang besar dan berwarna merah uda dan menegang karena birahi. Celana pendek Kathleen sudah terlepas dan koyak oleh Adi. She is totally naked!! And her nipples look so tasty!!

Adi menggendong Kathleen, memasukkan penisnya ke vagina Kathleen. Kathleen mendesah nikmat. Adi membawa Kathleen berdansa, dan menciumi payudara Kathleen serta mengulum putingnya. Raut wajah Kathleen menampakkan kepuasan.

Adi mengulum lidah Kathleen, ketika tiba-tiba Kathleen menandak-nandak, dan sontak lemas. Cairan Kathleen ternyata sudah keluar. Kathleen tersenyum manis, dan menyandarkan kepalanya ke bahu Adi.

Adi belum puas, lalu membawa Kathleen ke bath tub yang kosong. Diputarnya keran air dingin. Sementara itu, Kathleen membenamkan kepala Adi di payudaranya. Adi mengulum puting, dan tangannya menggerayangi vagina Kathleen. Kathleen mendesah nikmat. Adi makin memperhebat kulumannya. Dimainkannya puting di antara gigi, kemudian lidahnya menyentuh puting, kemudian dihisap kuat-kuat. Jari Adi masuk ke dalam vagina. Sontak tubuh Kathleen menggelinjang, membuat air bergelombang. Lalu memeluk Adi erat-erat, dan,....... Kathleen mencapai orgasme lagi.

Langsung penis Adi masuk menggantikan jarinya. "You are a beast! Nggh, Adi, I'm tired!" Kathleen mengeluh, tapi Adi malah mengeluar-masukkan penisnya dengan cepat dan keras. "Please, Adi! I'm exhausted! Nggh,...... Stop for a while, please!" sekarang Kathleen memohon. Adi segera mengubah tempo menjadi lembut, sementara tangan Adi menggerayangi pinggang Kathleen, dan Adi mencium Kathleen.

Kathleen mengubah posisi, dimana dia berada di atas. Adi membantu mendorong-tarikkan tubuh Kathleen. Awalnya pelan, tapi Adi kembali cepat. "Adi, don't too fast, please!" rengek Kathleen. Adi akhirnya menarik dengan cepat, dan mendorongnya pelan. "You're really a beast! Nggghh!!" untuk kesekian kalinya Kathleen mencapai klimaks, lalu berusaha melepaskan diri.

Tapi gagal. Adi merasa sebentar lagi maninya akan keluar, tapi tetap mengeluar-masukkan penisnya. Kathleen sekarang hanya bisa mengerang. Nafas Kathleen sudah satu-dua. "Adi, I give up!" "Wait a minute, Kathy!" jawab Adi. Tiba-tiba kaki Adi menegang, dan memeluk Kathleen erat, yang juga memeluk Adi dengan erat. Dan,..... "Nggghh!" "Awggghhh!!" Vagina Kathleen banjir oleh mani Adi dan cairan Kathleen.

MIA

Rabu. Proposal acara di JIS sudah gol pada hari Senin. Kathleen masih mengalami kelelahan sampai hari ini. Terbukti pada tes atletik lari 400m Selasa kemarin, Kathleen jatuh tersungkur. Akibatnya, Kathleen malu bertemu dengan Adi karena kekalahan yang telak itu.

Adi pulang dari kampus, bertanya tentang Fifi, adiknya kepada pembantu, karena kemarin Adi mendengar Fifi minta izin kepada orangtua untuk membolehkan temannya menginap karena ingin mengerjakan PR bareng. Fifi sekolah dimana sebagian besar muridnya adalah kaum selebriti. Ternyata adiknya sedang tidur siang di kamarnya yang berada di tingkat dasar. Kamar Adi di lantai atas.

"Temennya mana?" Adi bertanya kepada Nem, pembantunya yang manis dan bahenol. Tidur juga, di kamar tamu, den." Kamar tamu terletak bersebelahan dengan kamar Adi. Malah 1 kamar mandi.

Adi segera masuk ke kamar. Adi tidak bisa bertemu dengan teman adiknya sore ini. Mungkin nanti malam, pikir Adi. Adi berjalan menuju kamar mandi, ketika terdengar ada orang yang sedang mandi. Muncul otak porno-nya Adi. Cermin di kamar Adi, menjadi satu dengan cermin kamar mandi. Biar hemat, alasan Adi. Tapi Adi membuat cermin itu menjadi kaca tembus pandang untuk melihat orang yang sedang mandi. Cermin itu seukuran seluruh badan, dan hanya bisa digunakan dari kamar Adi menjadi kaca rahasia, bila lampu kaca rahasia itu dinyalakan. Adi pun menyalakan lampu itu.

Segera terlihat oleh Adi seorang gadis berusia sekitar 16 tahun sedang menguyur tubuhnya yang telanjang bulat dan indah. Wajahnya cantik sekali, berbentuk tirus dengan rambut sebahu, lehernya jenjang, putih, dan sangat menggiurkan untuk dicium, bahunya indah, payudaranya penuh, dengan puting warna merah muda, perut halus, indah, putih, pinggang ramping, tapi berpinggul besar dengan rambut kemaluan yang lebat. Kakinya mulus putih, indah sekali.

Selesai mandi, dia duduk di kloset dan diambilnya sabun. Gadis itu melakukan masturbasi. Pertama diusapkannya di payudara dengan sensual, hingga menegang dan berbentuk buah mangga yang mengkal. Putingnya makin merona dan terlihat matang.

Dari payudara, ke perut, kemudian langsung ke vagina. Dikeluar-masukkannya sabun itu, pertama pelan, kemudian cepat. Tangannya memainkan putingnya sendiri, kemudian ke leher, balik lagi ke payudara. Diremasnya payudaranya silih berganti. Tak lama dia mengejang, hingga akhinya cairan menetes dari vaginanya. Di antara erangannya. Adi mendengar namanya dipanggil. "Aadi,..... ngggh!!"

Adi kaget. Ternyata gadis ini mengimpikan Adi. Rasanya Adi kenal. O..... Mia! Mia adalah teman Fifi dari SMP. Mia menyukai Adi dan mengutarakan hal itu langsung pada Adi. Tapi dulu Adi menganggap Mia masih anak-anak. Masih kelas 3 SMP! Tapi ternyata Mia sekarang telah menjelma menjadi gadis yang begitu cantik!

Mia tidak mengetahui bahwa dirinya diintai Adi. Setelah Mia masuk ke kamar tamu, Adi segera ikut masuk sebelum pintu dikunci.

Mia kaget. Adi mendekat. "Adi,....." desis Mia. Adi tanpa bicara merengut handuk yang menutupi tubuh Mia sehingga terlihatlah oleh Adi tubuh Mia yang ranum ini. "Mia, kamu sungguh cantik," puji Adi, lalu mencium Mia dengan nafsu, dan jarinya memasuki vagina Mia. Ternyata Mia masih perawan!!

"Adi, saya belum pernah,........" kata Mia ragu.

"Saya ajarin. Mau?" tanpa menunggu jawaban, Adi membimbing Mia ke tempat tidur. Adi langsung mengulum puting Mia yang memeluk Adi. Adi perlahan-lahan memasukkan penisnya ke vagina Mia. Mia mengerang, menahan sakit. Ketika penis Adi sudah masuk seluruhnya ke dalam vagina Mia, darah keperawanan muncrat keluar.

"Awgggh! Ngggh! Nggh!" Mia menggelinjang sambil mendesah. Vagina yang masih perawan ternyata kering, rapat, lebih nikmat dibandingkan dengan yang lain. Adi mengeluar-masukkan penisnya secara lembut. Setelah beberapa menit, Adi mulai mengeluarkan pelan, tapi memasukkannya keras.

"Nggh! Adi, nikmat, nggh!" Mia mengerang, mendesah. Sontak dia menandak-nandak dan memeluk Adi seakan tidak dilepas. Vaginanya banjir oleh cairannya sendiri.

Adi sekarang bermain keras, walau Mia mengiba, disertai kuluman Adi pada puting, gigitan Adi pada leher, perasan di pantat. Mia yang baru pertama kali bermain cinta, kewalahan menghadapi Adi. Mia mencoba mengedot, menggoyangkan pinggul, ternyata dalam waktu 10 menit, Mia sudah empat kali orgasme. Dan Adi tidak memberikan istirahat pada Mia.

Akhirnya ketika Mia sudah tidak berdaya, lemas, Adi baru merasakan maninya akan keluar. Mia juga akan mencapai orgasme untuk kesekian kalinya. Mia memeluk lagi Adi erat, begitu juga dengan Adi.

"Awggh! Adi, saya capek! Tolong, Di! Stop!" hiba Mia ketika mencapai orgasme.

"Sebentar lagi Mia, ngggh!" Mia merasakan cairan mani Adi membanjiri vaginanya. Mia tersenyum, kemudian tidur dengan kepala direbahkan ke dada Adi yang bidang. Adi menunggu Mia tertidur, baru kembali ke kamarnya sendiri.

MIA,..... OH MIA,.....

Jam 1.00 dinihari. Adi selesai mempelajari diktat kuliah. Mia tadi makan malam dengan keluarga Adi. Setelah it mereka berbincang-bincang. Sekitqar jam 10.00, Adi pamit masuk kamar, dan belajar sampai sekarang.

Adi merebahkan diri ke kasur. Tiba-tiba pintu kamar dari kamar mandi terbuka. Ooo, Mia.

"Ada apa Mia?" Adi bertanya tanpa bangun. Mia memberi isyarat diam. Saat itu, Mia mengenakan kimono tidur, sedang Adi hanya memakai shorts. Tiba-tiba Mia melepaskan kimononya. Dibaliknya, Mia tidak memakai apa-apa. Telanjang bulat!

Tiba-tiba Adi hilang rasa kantuknya. Mia mendekat, dan Adi berusaha agar tampak santai. Mia melepas celana Adi, dan tiba-tiba menjadi agresif. Tangan Adi ditarik ke payudaranya, dan Mia mengelus-elus penis Adi agar menegang. Adi tetap bersikap tenang.

Tapi Adi menjadi agresif ketika penisnya mengeras. Adi membalikkan Mia, dan langsung memasukkan penisnya ke vagina Mia dengan kasar, yang membuat Mia menjerit tertahan. Tapi setelah itu Mia menikmatinya karena vaginanya terasa penuh dimasuki penis Adi yang besar dan panjang. Adi menggoyang, mendorong-tarik pinggul Mia dengan keras tapi lembut. Tak lama kemudian Mia mengejan, dan menggigit bibir bawahnya sendiri. Tangannya mengejang, payudaranya menegang, dan terlihat menantang sekali.

Adi terus menggoyang pinggul Mia, dan belum merasa hendak orgasme. Tapi, "Ngggh! Awgh! Nggghh!!" Mia mengejan panjang, dan cairannya memenuhi vaginanya sehingga becek. Adi berganti posisi atas dan tanpa berhenti tetap mengeluar-masukkan penisnya, dan sibuk mengulum leher dan puting Mia. Puting Mia dimainkan oleh lidah Adi, dan digigit kecil.

"Adi, terus, jangan berhenti!" desah Mia disela-sela erangannya. Ternyata Mia tidak bertahan lama. Mia memeluk Adi erat, kakinya mengejang, dan... "Awggh! Nggh! Nggghh!!" Mia mengerang mengiringi banjirnya vagina oleh cairannya lagi. Sampai Mia mencapai orgasme keempat kalinya. Adi belum juga mencapai orgasme. Tapi setelah yang kelima, Adi mulai merasakan.

"Adi, stop! Mia nggak kuat!" pinta Mia, pasrah, tidak bertenaga. "Ngggh! Awggh! Cukup Adi, please," Mia menghiba, untuk keenam kalinya Mia mencapai orgasme.

"Sebentar Mia," Adi tetap melanjutkannya. Mia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan,... "Awggh! Ngggh! Nggghh! Adi, stop!" jerit Mia tidak tahan.

"Ngggh!" akhirnya Adi mencapai orgasme. Adi segera memeluk Mia, dan mereka segera terlelap. Jam menunjukkan 02.30 dinihari.

NEM

Kamis sore. Adi duduk di balkon kamarnya. Nem, pembantu yang lugu, cantik dan bahenol, mengepel lantai balkon. Adi teringat kejadian kemarin dengan Mia yang pulang tadi pagi. Tengah merenung, mata Adi tiba-tiba tertumbuk ke........ payudara Nem!

Kancing atas baju Nem terlepas dua, sehingga payudaranya terlihat jelas. Ternyata tidak ber-bra. Nem menyadari Adi menatapnya antusias. Pipinya memerah, menambah ayu wajah desanya. Ketika Nem menyadari kancing baju bagian atas lepas, segera dibenarkan, dan merah di mukanya makin menjadi. Nem cepat-cepat berbenah dan keluar dari kamar Adi. Nem tampak menggiurkan dari belakang dengan kain yang melilit tubuhnya. Nem sekarang menjanda, korban perkawinan usia muda. Paling tua mungkin 18 tahun sekarang. Adi sendiri berumur 19 tahun.

Tak lama kemudian, Adi merasa birahinya muncul akibat Nem. Dipanggilnya Nem lewat intercom.

"Neem! Nem, cepet!"

"Nggih, Den Bagus," Nem tergopoh-gopoh menjawab.

"Pijetke aku, Nem, aku pegel!" keluar bulusnya Adi.

"Nggih, Den Bagus," Nem segera menuju kamar Adi.

Ketika Nem masuk, Adi ternyata sudah menanggalkan pakaiannya, dan bersembunyi di balik pintu. Nem masuk, tidak melihat Adi.

"Den, kulo sampun siap mijet," kata Nem.

"Aku dibelakangmu, Nem," Adi mengagetkan Nem yang terperangah melihat Adi telanjang.

"Den, mboten Den, ampun, Den!" Nem ketakutan. Adi tidak menjawab, hanya maju mendekati Nem. Nem mundur seiring Adi maju, hingga tersandung dan jatuh ke ranjang.

"Kulo njerit, lho, Den!!" Nem mengancam.

"Teriak aja," tantang Adi, karena kamarnya kedap suara.

Adi menyusul Nem, menciumnya, dan membuka kemeja Nem. Saking ketakutan, Nem tidak berontak. Setelah kemeja Nem terlepas, Adi ganti menciumi dan mengulum payudara serta puting Nem. Payudara Nem ternyata lebih besar, lebih indah daripada cewek-cewek yang lain, dan lebih kenyal. Adi merobek kain Nem, dan ternyata jembut Nem lebat sekali.

Jari Adi masuk ke dalam vagina Nem, meraba-raba, memberi rangsangan. "Nggh! Den, sampun, ngggh! Den," desah Nem setelah mencapai orgasme pertamanya. Adi tidak peduli. Jarinya keluar, ganti penisnya yang mengeras masuk. Adi mengeluar-masukkan penisnya dengan keras, tapi lembut. Nem merasakan nikmat yang tiada duanya karena klitorisnya terdesak penis Adi.

Ketakutan Nem telah berubah menjadi kenikmatan. Nem menggoyangkan pinggulnya, mencoba mengedot penis Adi, tetapi Adi tetap saja dapat mengeluar-masukkan penisnya, malah mempercepat tempo. Sementara puting Nem dikulum Adi, lalu pindah ke leher Nem, diciuminya dengan penuh gairah. Sontak Nem mengejan, memeluk Adi erat. Tapi.... "Nggh! Nggh!" Nem mencapai orgasme lagi. Nem berusaha melepaskan diri karena capek, tapi tak berhasil. Adi tetap mengeluar-masukkan penisnya dengan lembut.

Karena Nem kehabisan tenaga, orgasmenya yang ketiga terhitung cepat, hanya sekitar tiga menit, dan,.... "Nggh! Nggh! Nggghh! Den, sampun, kulo mboten kiat!"

Tetap saja Adi yang maniak sex ini menggoyang pinggul dan mengeluar-masukkan penisnya.

"Den, stop, Den!" jerit Nem.

"Nem, sebentar," Adi merasa maninya akan keluar, dan dipercepat temponya. Adi memeluk Nem erat, begitu juga dengan Nem. Dan, "Awggh! Ngghh! Den, stop!" Nem mencapai klimaksnya terlebih dahulu.

"Ngggghh!" akhirnya Adi tidak dapat membendung lagi. Adi segera bangun, mengambil sejumlah uang bernilai satu setengah bulan gaji. Diberikannya pada Nem.

"Matur nuwun sanget, Den Bagus!" Nem girang. Bayangkan, satu setengah bulan gaji!

NITA

Nita, teman Adi ketika kecil, main ke rumah Adi. Mereka mengobrol tentang berbagai hal di kamar Adi. Nita datang memakai kaos ketat dan bike pants, serta membawa laser disc.

"Di, setel ya," pinta Nita. Mereka kemudian menonton film itu di kamar Adi. Ternyata blue movie!

Nita cantik, dengan rambut spiral sedada. Lehernya jenjang, payudaranya menantang, pinggang kecil, tapi pinggul besar.

Nita mendekati Adi, perlahan membuka short dan kaos Adi. Sebelum terbuka semua, Nita membuka bajunya sendiri. Kemudian Nita mengulum penis Adi yang belum mengeras. Adi tidak tinggal diam. Sambil ber-69, Adi mengulum klitoris dan vagina Nita. Nita mengerang, "Mmmmhhh," dan payudara Nita terasa menegang, menyentuh perut Adi.

Nita ternyata tak bertahan lama. "Ngggh! Ngggh!!" Nita mencapai orgasme. Adi lalu menarik penisnya yang mengeras dari kuluman Nita, memasukkannya ke vagina Nita. Nita sering memimpikan bercinta dengan Adi, dan sekarang kejadian! Sementara Adi terus mengeluar-masukkan penisnya sampai,.....

"Nggghhh!" desah keras Nita ketika cairannya membanjiri vaginanya.

Sekarang Nita di atas. Adi langsung menggerakkan pinggul Nita depan-belakang. Nita ternyata tak terlalu kuat menahan tubuhnya sendiri. Nita akhirnya berbaring di dada Adi, pasrah mengikuti gerakan Adi.

Tak sampai lima menit,.... "Nggh! Adi, stop!" Nita mencapai orgasme yang ketiga kalinya. Nita berusaha melepaskan diri. Berhasil. Tapi langsung diterkam kembali oleh Adi.

Adi memasukkan penisnya lagi, dan Nita sekali lagi merasakan nikmat karena vaginanya penuh dengan penis Adi yang besar dan panjang. Adi sekarang bermain kasar.

"Nggh! Nggh! Adi, Nita nyerah," iba Nita ketika mencapai orgasmenya yang keempat. Adi mulai merasakan kenikmatan mulai merambati tubuhnya. Dipercepat permainannya.

"Nggh! Adi, stop! Ngggh!" Nita benar-benar memohon karena sudah tidak berdaya sama sekali.

Adi tidak mempedulikannya, dan tiba-tiba memeluk Nita erat, Nita juga memeluk Adi erat.

"Nggh! Awggh! Adi, stop!" Nita sekarang menjerit.

"Awgggh! Ngggghhh!" Adi akhirnya tidak dapat menahan maninya lebih lama. Adi mencium Nita mesra, dan membiarkannya tidur dalam dekapan Adi.

NEM LAGI

Sore ini Adi sedang berenang di kolam renang pribadinya, ketika birahinya muncul. Adi segera teringat Nem. Rumah sedang sepi. Tinggal Adi, Nem, dan Rah, adik Nem.

"Neem! Gawe'ke (bikinin) sirup!" Adi berteriak memanggil.

"Nggih den!" Nem menyahut.

Tak berapa lama kemudian Nem datang membawa segelas sirup.

Ketika Nem mendekat, Adi mengamati tubuh Nem. Masih seperti minggu lalu. Adi menunggu Nem menaruh gelas. Setelah Nem berbalik, Adi langsung menerkam Nem. Nem memberontak.

"Den, mboten, Den," Nem mengiba seperti waktu itu. Adi tidak mempedulikannya, malah menceburkan dirinya dan Nem ke kolam renang bagian dangkal. Tubuh Nem yang terbungkus daster, segera terlihat siluetnya. Nem tidak memakai bra. Payudaranya yang indah semakin mengkal dan berwarna merah muda. Rambutnya terurai, membuat dia semakin sexy, dan menambah gairah Adi.

Adi segera merengut dasternya, merobek celana dalamnya. Bibir dan leher Nem dikulum Adi. Payudaranya menegang. Ibaan Nem berganti ke desah kenikmatan. Jari Adi masuk ke vagina Nem, dan memainkannya di dalam vagina Nem.

Tubuh Nem bergetar, menahan agar cairannya tidak keluar. Tapi, apa daya, tubuhnya menggelinjang hebat, seiring keluarnya cairan. Adi segera mengeluarkan jari, dan penisnya menggantikan jarinya.

Adi bermain gentle, mengeluar-masukkan penisnya dengan lembut diiringi erangan Nem. Nem mencoba mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya. Adi membalas dengan mempercepat tempo, dan mengulum puting Nem, disertai gigitan-gigitan kecil.

"Den, kulo mboten kiat (kuat), Den!" iba Nem. Tubuh Nem bergetar akibat orgasme yang kedua kali. Adi meningkatkan serangan, dengan meremas pantat, dan menjilati leher Nem yang jenjam.

"Nggghhh!!" Nem mengerang, mengeluarkan cairannya untuk ketiga kalinya. Nem memberontak dan berhasil lepas. Lari. Tapi karena berat ditahan air, Adi langsung menerkam, dan memaksa Nem bersimpuh. Langsung Adi memasukkan penisnya doggie style, disetai remasan pada payudara, dan jilatan pada tengkuk Nem. Nem hanya bisa mengerang nikmat.

"Ngggh!" untuk ketiga kalinya Nem menyerah kalah, lalu Adi menukar posisi Nem. Adi di bawah, Nem di atas. Adi membimbing Nem bergerak depan-belakang. Adi mempercepat gerakan, dan,.....

"Ngghh!" Nem menyerah untuk kesekian kalinya dengan getaran yang hebat.

"Den, kulo mboten kiat, Den!" Nem benar-benar mengiba. Melihat Nem tidak berdaya, Adi yang belum puas segera memanggil Rah, adik Nem yang berumur 16 tahun, tapi manis, sexy, menggairahkan, dan, kayaknya, masih perawan!!! Hmmmm, Yummy!!

RAH

"Sekedap (sebentar), Den!!" Rah tergopoh-gopoh lari ke kolam renang. Rupanya Rah belum tahu apa yang terjadi.

Sampai di pinggir kolam renang, Rah hanya melihat kakaknya telanjang bulat, tergeletak pasrah di kolam renang bagian dangkal. Tiba-tiba Adi muncul dari dasar, dan melompat ke darat dengan telanjang bulat. Rah terperangah, terpaku di tempat. Adi segera melepas kebaya Rah dengan hanya sekali rengutan. Payudaranya turun-naik, mengikuti gaya yang ditimbulkan oleh perengutan kebaya.

Adi mengamati tubuh Rah. Indah. Wajah desa yang ayu, makin manis bila terperangah. Rambutnya yang sepinggang, menambah sexy. Belum lagi tubuhnya. Halus dan indah seperti pahatan pematung terkenal. Lehernya yang jenjang, payudaranya yang penuh, perut kecil, tubuh padat dan indah, ditambah dengan pinggul yang besar. Adi merengut jarik Rah. Terlihatlah kakuinya yang indah, paha mulus, dan jembut yang lebat. Adi menciumi leher Rah, payudaranya, mengulum putingnya, dan meremas pantat Rah.

"Den, mboten, Den," iba Rah, seperti ibaan kakaknya.

Terlambat, jari Adi memasuki vaginanya. Ternyata masih perawan. Tiba-tiba Rah diceburkan Adi ke kolam. Rah megap-megap. Rambutnya yang basah, menambah besar birahi Adi. Adi menyeburkan diri, mendekai Rah. Rah merapat ke dinding, berpegangan lis di tepi kolam. Adi menciumi bibir Rah dengan penuh nafsu, kemudian mengulumnya, seperti hendak dilumatnya. Rah yang belum pernah ciuman, kaget, tapi menikmatinya. Kemudian dengan perlahan Adi memasukkan penisnya yang mengeras ke vagina Rah yang perawan.

"Agggh!" erang Rah, meraskan sakit sekaligus nikmat, karena penis Adi besar dan panjang. Darah keluar, bercampur dengan air, lalu hanyut. Adi bermain gentle, tapi Rah tidak bisa mengimbangi. Dengan berpegang kuat-kuat pada lis, Rah mengejan.

"Ngggh!! Den, enak, Den," desah Rah. Adi mulai lagi. Rah memeluk Adi. Adi menjilati leher, menciumi bibir, payudara, mengulum bibir dan puting. Rah mencoba menggoyang. Adi tidak mau kalah. Dipercepat gerakannya, dan,.....

"Nggh! Den, sampun (sudah), Den!" Rah mengiba.

Adi tidak peduli. Tubuh Rah diputar hingga membelakangi Adi. Kemudian dimasukkan penisnya, dan mendorong tubuh Rah bawah-atas, sembari meraba tubuh Rah yang nyaris sempurna, meremas payudaranya , dan menjilati lehernya. Rah nampaknya menikmati permainan ini. Tapi,....

"Ngggh!!" Rah mencapai klimaks yang ketiga.

Adi menggendong Rah ke bagian dangkal lalu membaringkan di sebelah Nem yang sedang kelelahan. Adi mengambil posisi atas, dan bermain kasar terhadap Rah. Dalam posisi ini, Rah kalah sampai tiga kali.

Adi sekarang di bawah, membantu Rah. Tak lama kemudian, Rah memeluk Adi erat-erat karena sedang menahan cairannya agar tak keluar. Adi juga memeluk Rah, karena merasa maninya akan keluar, dan,......

"Awggh!!" "Ngggh!!" Adi dan Rah mencapai orgasme pada waktu yang bersamaan, dan membanjiri vagina Rah.

Tapi Adi belum puas, dan menyergap Nem. Nem tidak berdaya. Adi bermain kasar, dan,......

"Ngggh!!" "Awggggh!" Cairan hangat dan kental dari Adi dan Nem membanjiri vagina Nem.

Adi berdiri, lalu mengambil uang sejumlah empat bulan gaji untuk mereka berdua. Nem dan Rah berterimakasih karena mendapatkan uang sebesar dua bulan gaji!!


DONNA

Hari Jumat sore, Adi berada di villa Inge, kekasihnya, bersama Donna, sepupu Inge dari Bandung. Inge mengajak mereka berdua, karena ingin merayakan ulangtahun Inge yang jatuh pada hari Sabtu. Tapi setelah Adi dan Donna datang (Donna datang duluan), Inge menelepon mereka bahwa ia baru bisa datang pas Sabtu-nya, karena akan merayakan ulangtahun bersama orangtuanya.

"Tapi sekitar jam 12.00 siang, lho," Inge menjelaskan. Adi sudah hendak pulang, tapi Donna menahannya. Alasannya, bila Adi pulang, Donna sendirian di villa. Akhirnya Adi mau menemani. Villa ini terletak di Mega Indah, dekat dengan villa Adi yang di Cisarua. Luas villa ini kira-kira satu hektar.

Hari sudah malam, Adi sedang menonton TV di ruang keluarga di lantai dua. Karena acaranya jelek, Adi hendak bergabung dengan Donna.

"Donna, boleh masuk, nggak?" Adi bertanya basa-basi, karena pintu kamar Donna terbuka lebar, dan Donna sedang berada di balkon kamarnya.

"Masuk aja," ajak Donna.

"TVnya ngebosenin, ya?" tanya Donna.

"He-emh," diiyakan oleh Adi.

Kemudian mereka mengobrol ngalor-ngidul, untuk membunuh waktu, diiringi oleh alunan lagu slow-romantis dari kamar Donna. Adi mulai merasakan birahinya bangkit, tapi berusaha menahan, karena Donna adalah sepupu Inge, dan akan mudah terlihat dari balik celana piama Adi. Adi berusaha menutupinya dengan bantalan kursi.

"Adi, nggak kedinginan?" Donna heran melihat Adi hanya memakai kaos oblong dan celana piama.

"Biasa di Cisarua, kok. Disana lebih dingin sedikit dibanding disini," jawab Adi.

"Pantes, kalah dong, awewe (cewek) Bandung," gurau Donna, yang disambung dengan tertawa pelan.

"Di, duduknya bareng, dong, biar anget," Donna menggigil walau memakai sweater ketat, dan duduk di kursi besar ukuran satu orang.

Wajah Donna manis, kental dengan warna Sunda. Rambutnya sebahu, tidak tinggi (sekitar 155 cm-an), tubuhnya padat, payudaranya yang montok terbayang jelas, karena sweater ketatnya. Adi terus berusaha mengendalikan birahinya.

"Donna kesini aja," ajak Adi yang duduk di kursi panjang.

"Ogah, ah. Disitu sama aja duduk sendiri," Donna memberengut manja. Adi makin kewalahan mengontrol birahinya. Adi takut tidak bisa menahannya. Tapi akhirnya Adi pindah ke kursi Donna, berdesak-desakan.

"Adi, kekep (peluk) dong, dingin," pinta Donna. Adi menurutinya. Dilingkarkan tangannya ke pundak Donna, lalu dieratkan. Otomatis, leher Donna mendekat ke bibir Adi, dan bila Adi menoleh sedikit, saja, bibirnya akan menmyentuh leher Donna. Sementara, lagu slow makin meningkahi suasana.

"Donna,...." Adi tak tahan lagi, mencium leher Donna yang jenjang itu. Adi kehilangan kendali atas birahinya. Adi membuka sweater Donna, merengut bra-nya, lalu membelai tubuh dan payudaranya yang montok itu. Kemudian Adi membopong Donna sambil mencium bibir Donna yang ranum masuk ke kamar.

Ganti Donna membuka kaos Adi, dan Adi membuka celana panjang dan celana dalam Donna. Celana Adi juga sudah dibuka Donna, lalu penisnya yang keras dikulumnya. Adi segera mengambil posisi 69, dan langsung menjilati dan mengulum vagina dan klitoris Donna. Tak berapa lama kemudian Donna menggelinjang, dan,......... "Ngggghh," erangan keluar dari mulutnya, yang masih mengulum penis Adi, menandakan cairannya telah keluar.

Adi mengeluarkan penisnya dari mulut Donna, ganti memasukkannya ke dalam vagina Donna. "Hnkkk!" Donna merasa sakit, tapi tak lama, diganti dengan rasa nikmat.

"Adi, yours is big," desah Donna. Dikulum putingnya oleh Adi. Donna mencoba menggoyang pinggul, tapi Adi memperkeras permainannya. Makin lama makin cepat, dan,.

"Ngggh! Adi, stop, nggak kuat!" Donna mengerang.

Tapi Adi malah tambah bernafsu. Diciuminya leher, payudara, kuluman pada bibir, putting, serta perasan pada pantat. Dan, "Ngggh! Adi, nyerah!" iba Donna.

Adi tak peduli. Donna sekarang dalam posisi doggie style, dan Adi berada di atas. Adi mengeluarmasukkan penisnya, dan meremas payudara Donna yang kenyal itu.

"Adi, stop! Ngggh! Adi, lemes, Adi," ibaan Donna makin menjadi. Adi yang baru merasa maninya akan keluar, tidak mengendurkan tempo. Donna kembali terlentang. Adi bermain kasar, hingga Donna kalah dua kali lagi, dan,.

"Adi, rasanya mau mati! Stop, Adi!" erang Donna dengan tersengal-sengal. "Sebentar lagi, Donna," jawab Adi. Dan,..

"Ngggh! Adi, stop!" "Ngggh!" mani Adi dan cairan Donna membanjiri vagina Donna. Donna tersenyum manis, lalu merebahkan kepalanya ke dada Adi, dan tertidur.

MBAK DESI

Adi terbangun tengah malam, di kamar Donna. Sambil mengamati tubuh Donna yang indah, Adi teringat akan Mbak Desi. Mbak Desi-lah yang mengenalkan Adi kepada kehidupan bebas ini. Semua bermula ketika Adi, yang waktu itu masih kelas 3 SMP, diajak tantenya, Mita, yang masih kuliah, ke rumah Oom Anto, pacar Tante Mita. Oom Anto mempunyai adik yang masih kelas 3 SMA, yaitu Mbak Desi. Sementara Oom Anto dan Tante Mita pacaran, Adi diajak Desi menonton video kartun di kamarnya. Ketika video sudah berputar sekitar 15 menitan, tiba-tiba gambarnya berubah, menjadi film porno! Adi tidak tahu harus berbuat apa, sementara Desi tenang-tenang saja.

"Adi, jangan kasih tahu siapa-siapa, ya," Desi tersenyum pada Adi.

"Nggak, Mbak," Adi menurut saja.

Film semakin hot, dan Desi, ikut meremas bagian tubuhnya sendiri. Kemudian memanggil Adi. Tangan Adi dibawa ke payudaranya, dan dibimbingnya, untuk membelai payudaranya. Adi bergetar, dipenuhi nafsu yang membara, yang belum pernah dirasakannya. Desi membuka kaosnya, dan terlihatlah payudara yang indah, lebih indah dari gambar-gambar di majalah, ataupun film tadi. Bentuknya besar, menantang, putih mulus, dan putingnya berwarna merah muda! Desi mendesah, dan pancaran wajahnya penuh birahi, menggairahkan. Matanya kadang terpejam, membelalak, bibirnya bergerak-gerak sensual, lehernya sungguh mengundang untuk dicium, digigit,............

Desi menarik Adi mendekat, dan diciumnya. Adi mengulum bibir Desi dengan penuh nafsu. Desi membenamkan wajah Adi di antara payudaranya.

Adi menciumi payudara Desi, menggigit kecil, mengulum putingnya. Dengan lidahnya, Adi bermain motocross disitu. Terasa oleh Adi, tubuh Desi menggelinjang, lalu Adi menciumi leher Desi, dan Desi menggelinjang makin keras, akhirnya,.......

"Nggghh!!" tubuh Desi tenang kembali, dan wajahnya membersitkan kelegaan akan sesuatu yang telah berhasil dikeluarkan.

Tiba-tiba Desi membalikkan Adi, membuka kaos dan celana Adi hingga telanjang bulat. Desi memainkan penis Adi hingga keras, kemudian dikulumnya. Adi merasakan nikmat yang amat sangat, lebih nikmat dibandingkan masturbasi. Adi menggelinjang merasakan kuluman, hisapan, dan gigitan. Mata Desi yang nakal menatap Adi. Tiba-tiba Desi memperkuat hisapan, dan lidah Desi menggerayangi penis Adi, hingga,......

"Ngggh!!" Adi menggelinjang, mencapai orgasme. Mani Adi semua langsung ditelan Desi. "Hmmmm, enak," kata Desi nakal. Kemudian Desi mengulum penis Adi yang mulai mengecil. Dan Adi dengan takjub merasakan penisnya mengeras lagi! Desi lalu membimbing Adi untuk memasukkan penisnya ke vagina Desi. Desi mulai menggerakkan pinggulnya, dan mendorong pinggul Adi yang berada di atas. Adi kembali menciumi payudara, menjilati leher, menggigit puting Desi.

"Aagh, ngggh!" Desi tidak terlalu kuat rupanya. Tapi birahinya masih besar. Desi tidak melepaskan diri dari Adi. Adi kemudian mengambil alih. Adi membalikkan badan, hingga Desi berada di atas. Adi mendorong-tarik pinggul Desi, sehingga penis Adi dapat keluar-masuk vagina Desi. Tapi,.......

"Ngggh! Adi, kamu hebat! Stop, Adi!" Desi mengejan, melepaskan cairannya.

"Sebentar, Mbak!" Adi mendorong-tarik pinggul Desi dengan kencang. Desi pasrah saja. Dan,............. "Nggghhh!!! Adi!!!!!"

"Ngggh!" Adi akhirnya melepaskan maninya.

"Mbak Desi, makasih," Adi telah masuk ke dunia kehidupan bebas.

SELAMAT PAGI, DONNA

Adi bangun dari tidurnya, dengan Donna ada di pelukannya. Perlahan-lahan Adi mencium keningnya, dan meninggalkan kamar menuju balkon. Udara yang sejuk, dengan pemandangan Gunung Gede di tenggara dan Gunung Salak di barat daya, sungguh membuat Adi terpesona. Saking terpesonanya, Adi tidak menyadari kalau Donna sudah bangun dan duduk di sampingnya. Adi tersadar ketika Donna merebahkan kepalanya ke lengan Adi.

"Nyenyak tidurnya, Donna? Adi bertanya dengan mesra.

"He-emh. Kamu?"Donna memandang mesra.

"Sama," Adi menjawab.

Donna hanya memakai selimut wol tebal. Terlihat jelas oleh Adi, payudara Donna. Sungguh mengundang. Donna merasa diperhatikan, ganti memandang Adi. Adi mendekatkan dirinya untuk mencium Donna. Ketika bibir mereka menyatu, Donna tidak dapat menahan birahinya. Donna memeluk Adi, dan selimut wolnya terjatuh, sehingga Donna telanjang bulat.

Adi melepas celana piamanya, kemudian menciumi dan mengulum payudara serta puting Donna. Donna menandak-nandak nikmat. Lalu Donna mengelus-elus penis Adi yang sudah mengeras. Adi memasukkan jarinya ke vagina Donna, lalu mengelus-elus klitoris dan mengeluar-masukkan jarinya. Sementara Donna malah mengocok penis Adi dengan tujuan Adi keluar dulu maninya. Tapi ternyata Donna kalah. Ia merasa cairannya akan keluar.

"Ngggh, ngggh!!" cairan Donna telah membanjiri vaginanya tanpa bisa ditahan. Adi ganti memasukkan penisnya ke vagina Donna. "Awggh!!" Ternyata Donna tidak siap untuk serangan ini, sehingga Donna menggelinjang dan mengeluarkan cairan lagi, dan merasakan sakit ketika penis Adi yang besar dan panjang memasuki vaginanya.

Adi duduk di bangku, memangku Donna. Adi membantu Donna mendorong-tarikkan pinggulnya dengan tangan, dan menciumi leher Donna yang indah. Donna sangat menikmatinya. Tapi, tak lama kemudian, Donna menggelinjang lagi, dan,.........

"Ngggh!! Ngggh!! Adi, lemes, Di! Please, Adi stop!!" Donna mengiba. Tapi Adi belum merasakan maninya akan keluar. Adi tetap mendorong-tarikkan pinggul Donna, lalu mengubah posisi Donna sehingga membelakangi Adi. Dan,........

"Ngggh!! Adi stop!! Nggak kuat lagi, Adi!!!" jeritan Donna makin menjadi. Tapi Adi tak peduli, malah berdiri menggendong Donna. Donna memeluk Adi erat-erat. Adi menyandarkan Donna ke tembok, lalu menciumi payudara dan mengulum puting Donna. Donna menandak-nandak lagi, dan,..........

"Ngggh!!" Donna sudah tidak berdaya. Adi pindah posisi lagi, kembali ke kamar, Adi bermain cepat, karena Adi sudah merasakan maninya akan keluar.

"Ngggh!! Ngggh!! Adi, stop!!" Donna merengek. Ia benar-benar tidak berdaya.

"Sebentar lagi, Donna," Adi menahan maninya, tapi,.........

"Ngggh!! Adi, STOP!!" Donna menjerit.

"Ngggh!!" mani Adi akhirnya membanjiri vagina Donna.


come to my friends' site




Proud member of Cerita-cerita seru webring

Sign My Guestbook Guestbook by GuestWorld View My Guestbook



Make your own free website on Tripod.com